top of page
BG_MENTAH_2.gif
CHAEYOUNG.png
MIYEON.png
LYANNA.png
CHAEYEON.png
BAI LU.png
IMG_3619.png

Introduction: The Horsemen

BG_MENTAH_4.gif

Di bawah langit malam yang dipenuhi lampu neon, lima perempuan dari latar belakang yang sangat berbeda berkumpul tanpa diduga di sebuah bar dan kasino yang tak biasa. Tak satu pun dari mereka yang menyangka bahwa takdir akan mempertemukan mereka di tempat yang begitu penuh dengan godaan, di mana dunia yang mereka tinggalkan sebelumnya hanya sebuah bayangan yang terhapus begitu saja oleh kehadiran masing-masing. Mereka adalah The Horsemen, sekelompok perempuan dengan kisah kelam yang tak ingin diketahui dunia, tetapi mereka menemukan diri mereka dalam perjalanan tak terduga yang akan mengubah segala sesuatu.

 

Salah satunya adalah Galestria, seorang artis terkenal yang selalu menghiasi layar kaca sebagai bintang film. Namun, di balik kilau lampu sorot, ia adalah seorang pecandu judi yang tak terkendali. Utang-utang judi menumpuk, dan ketenarannya mulai memudar seiring berjalannya waktu. Uangnya habis tergerus dalam putaran roda kasino, setiap kemenangan yang didapat justru membawa lebih banyak kerugian. Galestria hanyalah satu dari lima perempuan yang terseret dalam permainan berbahaya ini, berusaha menyelamatkan diri dari takdir yang sudah hampir merenggutnya.

 

Selain itu, ada Lyanna, seorang akuntan di sebuah perusahaan besar di Jakarta yang hidupnya tampak sempurna di mata orang lain. Gaji besar, status sosial yang dihormati, dan karir yang gemilang membuat banyak orang menganggapnya sebagai sosok yang berhasil. Namun, di balik rutinitasnya yang terstruktur, Lyanna menyimpan kekosongan yang tak terungkapkan. Tekanan pekerjaan yang terus meningkat dan tuntutan untuk selalu tampil sempurna membuatnya merasa terperangkap dalam kehidupan yang monoton dan tanpa makna. Sebagai pelariannya, ia sering menghabiskan malam-malamnya di bar-bar kota, menenggak minuman beralkohol yang membuat pikirannya sejenak melupakan semua tekanan. Kadang kala, ia juga mengunjungi kasino dengan gemerlap lampu yang memabukkan dan suara mesin slot yang seolah berbisik menawarkan harapan palsu. Dalam setiap taruhan yang ia buat, ada harapan untuk menemukan kebebasan, meskipun itu hanya sejenak.

​

Kemudian, ada Cassaira, seorang desainer fashion terkenal, yang di luar penampilannya yang anggun dan penuh prestise, sebenarnya diliputi ketakutan dan rasa cemas yang mendalam. Kecanduan terhadap obat penenang menjadi pelarian dari tekanan yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Ketika malam tiba, ia sering terperangkap dalam pikirannya sendiri, mencari ketenangan yang hanya bisa didapatkan dalam peredaran pil-pil itu.

​

Lalu, ada Persephone, seorang mantan pesinetron cilik yang pernah menjadi bintang di masa kecilnya. Di usia muda, ia adalah sosok yang dielu-elukan, muncul dalam iklan, sinetron, dan film yang mendominasi layar kaca. Namun, ketenaran itu justru menjadi pedang bermata dua. Kehidupan yang selalu berada di bawah sorotan kamera menyisakan luka mendalam bagi Persephone, terutama ketika ia tumbuh dewasa dan nama besarnya perlahan memudar. Di tengah tekanan untuk mempertahankan relevansinya dalam dunia hiburan, Persephone terjerumus ke dalam dunia perjudian online. Setiap taruhan yang ia buat adalah upayanya untuk menemukan kembali kebahagiaan yang dulu pernah ia rasakan, tetapi semakin lama, perjudian hanya membawanya pada utang dan kehancuran.

 

Dan yang terakhir adalah Arum, seorang ahli kecantikan yang meraih popularitas di media sosial dengan berbagi tips kecantikan dan gaya hidup. Tapi, di balik semua itu, ia menanggung beban kritik keluarga yang memandang usahanya sebagai tindakan yang memalukan. Kritik itu menorehkan luka dalam yang ia sembunyikan dengan obsesi pada kesempurnaan dan gaya hidup mewah yang tak terkendali, hingga obsesi itu menjadi bumerang—menguras pendapatannya dan menyeretnya ke dalam gaya hidup yang lebih gelap.

 

Mereka, yang semula berusaha mengatasi kecanduan dan kesulitan mereka sendiri, akhirnya menemukan satu sama lain. Bersama-sama, mereka merancang sebuah ide brilian yang akan memberi mereka tempat untuk menyalurkan hasrat mereka yang terpendam tanpa mengorbankan nama baik yang telah mereka bangun selama ini. Sebuah tempat yang tak hanya menawarkan pelarian, tetapi juga kenyamanan bagi mereka yang ingin terlepas dari beban hidup mereka. Tempat itu adalah House of Vervela.

​

House of Vervela bukanlah tempat biasa. Tempat ini sangat sulit diakses, hampir seperti sebuah dongeng bagi mereka yang hanya mendengarnya. Lokasinya tidak bisa ditemukan melalui aplikasi peta tercanggih sekalipun, dan mereka yang mencari hanya akan berakhir dengan kegagalan. Namun, House of Vervela bukan hanya sekadar bar dan kasino ilegal. Itu adalah tempat di mana The Horsemen akan menemukan kebebasan tempat yang terlindungi dengan cerdik.

 

Untuk menyembunyikan identitas asli mereka, mereka membangun sebuah kedok: Revelva Eatery, sebuah café musiman yang tampaknya biasa saja. Di luar, Revelva Eatery menyuguhkan suasana santai dengan dekorasi yang memikat, seolah tempat ini tak lebih dari tempat hangout biasa. Namun, di balik itu semua, sebuah rahasia tersembunyi.

 

Jika seseorang memiliki keberanian untuk mencari lebih dalam, mereka akan menemukan sebuah pintu tersembunyi di sudut café. Pintu ini tampak biasa saja, tak ada yang mencurigakan. Tetapi, bagi yang tahu, pintu itu menyembunyikan sebuah lorong yang gelap, menuju sebuah lift yang seolah-olah tidak pernah ada. Ketika seseorang masuk ke dalam lift itu, mereka akan merasakan sensasi menuruni lantai bawah tanah yang jauh dari dunia yang mereka kenal.

 

Setelah turun, mereka akan menemukan sebuah piano besar dan tampaknya tak memiliki pintu masuk sama sekali. Namun, bagi mereka yang mengerti, piano itu adalah kunci. Setiap hari, tuts-tuts piano itu berfungsi sebagai sistem pengamanan yang berubah setiap harinya. Untuk membuka pintu yang tersembunyi di balik piano itu, seseorang harus menekan kombinasi tuts yang benar. Pintu akan terbuka perlahan, mengungkapkan dunia yang tersembunyi di bawah Revelva Eatery—House of Vervela.

 

Di dalam, House of Vervela menjadi tempat yang penuh dengan ketegangan dan intrik, sebuah tempat di mana The Horsemen melanjutkan hidup mereka dalam dunia yang penuh resiko. Di sini, mereka menemukan kebebasan yang mereka cari, tanpa takut identitas mereka terungkap. Dengan setiap permainan yang dimainkan, dengan setiap taruhan yang dipasang, mereka semakin dekat dengan dunia yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun, kecuali mereka yang tahu jalan menuju ke sana.

MENU 3.png
BG_MENTAH_4.gif

Galestria Lysaine

as Wager Clerk

CODE: THE GODFATHER

​

Gale

January 29, 1994

(PDOB)

Revelva's Cashier

Vervela's Wager Clerk

​

TB

BB

Aquarius

IMG_6479.png
1.png

of G:
A TALE BEFOREVERVELA

Galestria Lysaine, atau lebih akrab dipanggil Gale, lahir di Jakarta pada 29 Januari 1994. Sejak kecil, Gale selalu dikelilingi oleh kemewahan dan perhatian, berkat kecantikan dan pesona alaminya. Sejak usia belasan tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikannya dalam dunia hiburan. Tak lama kemudian, dunia perfilman Indonesia menjadi saksi kelahiran bintang baru yang tak hanya cantik, tetapi juga berbakat luar biasa. Kariernya cepat meroket, dan dalam waktu singkat, Gale menjadi salah satu bintang film paling dicari di industri hiburan tanah air. Di layar kaca, ia memerankan karakter-karakter yang penuh emosi, dengan kemampuan akting yang memukau, membuat banyak orang terpesona dengan tiap adegan yang dibintanginya. Gaya hidupnya pun serba glamor—undangan ke acara-acara elit, penghargaan dari berbagai festival film, dan sorotan media yang tak pernah berhenti.

​

Namun, di balik kecemerlangan tersebut, Gale menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak diketahui publik. Dunia hiburan yang selama ini ia jalani ternyata menyisakan tekanan yang begitu besar, baik secara fisik maupun mental. Di luar jam syuting, ia merasa seperti hidup dalam sangkar emas, terperangkap dalam harapan dan ekspektasi yang semakin meningkat dari publik, media, dan juga dirinya sendiri. Rasa kesepian mulai menggerogoti dirinya. Ia tak lagi bisa merasakan kebahagiaan dari pekerjaan yang dulu selalu dinikmatinya. Dalam keheningan malam, setelah kamera dimatikan dan sorotan lampu panggung padam, Gale mulai mencari pelarian.

 

Pelarian itu datang dalam bentuk perjudian. Berawal dari satu atau dua taruhan kecil yang dianggapnya hanya sebagai hiburan, lama-kelamaan perjudian menjadi cara utama untuk melarikan diri dari segala tekanan yang ia hadapi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai menguasainya. Dunia perjudian  menawarkan  rasa  euforia  dan  sensasi yang membuatnya merasa hidup—sesuatu yang ia rasa hilang dalam dunia film yang tampaknya sempurna di luar, namun kosong di dalam.

​

Namun, semakin dalam ia terjerumus, semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya. Namun,  semakin  dalam ia terjerumus,semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya.

 

Di luar kariernya sebagai artis, Gale tampak seperti seorang wanita yang tidak punya beban—senyum manis selalu terpasang di wajahnya, dan ia selalu tampil anggun di hadapan kamera. Namun, di balik itu semua, ia merasa seperti orang yang terperangkap dalam perangkap yang ia buat sendiri. Setiap kali berjudi, ada perasaan meringis di dalam hati, menyadari bahwa ia telah mengorbankan segalanya untuk sebuah kebiasaan yang semakin menggerogoti dirinya. Tidak ada yang tahu betapa kesepian dan terisolasinya Gale di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Ia mulai merasa bahwa dunia nyata dan dunia yang ia jalani di layar kaca adalah dua hal yang sangat berbeda—sebuah ilusi yang harus dipertahankan untuk orang lain, meski di dalam dirinya, semuanya terasa hancur.

​

Kemudian, dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga di sebuah bar dan kasino, kehidupan Gale berubah lagi. Di sinilah, ia bertemu dengan empat perempuan lain yang sama-sama terperangkap dalam kehidupan yang tampaknya sempurna, namun penuh dengan kekosongan dan masalah yang tak terlihat. Mereka berlima, yang memiliki latar belakang berbeda, masing-masing dengan perjuangan dan kebiasaan kelamnya sendiri, merencanakan sebuah cara untuk menyalurkan hasrat tergelap mereka tanpa mengorbankan nama baik mereka di dunia luar. Dari pertemuan yang tak terduga itulah lahir ide untuk membangun sebuah tempat yang akan menyembunyikan kehidupan ganda mereka, sebuah tempat di mana mereka bisa bebas dari penilaian dunia luar: House of Vervela.

 

Memilih untuk hiatus dalam kariernya sebagai artis, Gale memilih untuk menjadi cashier di Revelva Eatery. Gale memainkan peran yang terlihat tidak mencolok. Ia melayani pelanggan dengan senyum manis dan sikap ramah, sementara di balik layar, ia mengawasi jalannya bisnis yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ketika pelanggan datang dan pergi, Gale terus menjaga citranya sebagai seorang wanita anggun dan profesional, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa semuanya adalah kebohongan yang ia buat untuk menutupi rahasia besar itu.

 

Di House of Vervela, ia berperan sebagai Wager Clerk. Gale mengelola dunia perjudian yang tak terbatas, tempat di mana ketegangan dan adrenalin mengalir deras. Sebagai Wager Clerk, ia memiliki kendali penuh atas taruhan yang ada, memastikan permainan berjalan dengan lancar, dan mengatur agar para pemain merasa terus tertantang. Namun, di balik meja dan layar komputer yang mengatur aliran uang dan taruhan, Gale juga tahu betapa destruktif dunia ini bagi dirinya. Meskipun ia telah menemukan cara untuk menyalurkan kecanduannya tanpa membahayakan karier keartisan atau citranya di mata publik, ia juga merasakan betapa dunia perjudian ini semakin menguasainya. Sebagai Wager Clerk, ia adalah bagian dari permainan yang tak pernah berhenti.

BG_MENTAH_4.gif

LYANNA ANEIRA

as Dealer

CODE: THE LAGER

​

Lyanna

(PDOB)

March 11, 1997

Revelva's Chef

Vervela's Dealer

​

TB

BB

Pisces

IMG_6478.png
3-2.png

of L:
A TALE BEFOREVERVELA

Galestria Lysaine, atau lebih akrab dipanggil Gale, lahir di Jakarta pada 29 Januari 1994. Sejak kecil, Gale selalu dikelilingi oleh kemewahan dan perhatian, berkat kecantikan dan pesona alaminya. Sejak usia belasan tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikannya dalam dunia hiburan. Tak lama kemudian, dunia perfilman Indonesia menjadi saksi kelahiran bintang baru yang tak hanya cantik, tetapi juga berbakat luar biasa. Kariernya cepat meroket, dan dalam waktu singkat, Gale menjadi salah satu bintang film paling dicari di industri hiburan tanah air. Di layar kaca, ia memerankan karakter-karakter yang penuh emosi, dengan kemampuan akting yang memukau, membuat banyak orang terpesona dengan tiap adegan yang dibintanginya. Gaya hidupnya pun serba glamor—undangan ke acara-acara elit, penghargaan dari berbagai festival film, dan sorotan media yang tak pernah berhenti.

​

Namun, di balik kecemerlangan tersebut, Gale menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak diketahui publik. Dunia hiburan yang selama ini ia jalani ternyata menyisakan tekanan yang begitu besar, baik secara fisik maupun mental. Di luar jam syuting, ia merasa seperti hidup dalam sangkar emas, terperangkap dalam harapan dan ekspektasi yang semakin meningkat dari publik, media, dan juga dirinya sendiri. Rasa kesepian mulai menggerogoti dirinya. Ia tak lagi bisa merasakan kebahagiaan dari pekerjaan yang dulu selalu dinikmatinya. Dalam keheningan malam, setelah kamera dimatikan dan sorotan lampu panggung padam, Gale mulai mencari pelarian.

 

Pelarian itu datang dalam bentuk perjudian. Berawal dari satu atau dua taruhan kecil yang dianggapnya hanya sebagai hiburan, lama-kelamaan perjudian menjadi cara utama untuk melarikan diri dari segala tekanan yang ia hadapi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai menguasainya. Dunia perjudian  menawarkan  rasa  euforia  dan  sensasi yang membuatnya merasa hidup—sesuatu yang ia rasa hilang dalam dunia film yang tampaknya sempurna di luar, namun kosong di dalam.

​

Namun, semakin dalam ia terjerumus, semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya. Namun,  semakin  dalam ia terjerumus,semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya.

 

Di luar kariernya sebagai artis, Gale tampak seperti seorang wanita yang tidak punya beban—senyum manis selalu terpasang di wajahnya, dan ia selalu tampil anggun di hadapan kamera. Namun, di balik itu semua, ia merasa seperti orang yang terperangkap dalam perangkap yang ia buat sendiri. Setiap kali berjudi, ada perasaan meringis di dalam hati, menyadari bahwa ia telah mengorbankan segalanya untuk sebuah kebiasaan yang semakin menggerogoti dirinya. Tidak ada yang tahu betapa kesepian dan terisolasinya Gale di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Ia mulai merasa bahwa dunia nyata dan dunia yang ia jalani di layar kaca adalah dua hal yang sangat berbeda—sebuah ilusi yang harus dipertahankan untuk orang lain, meski di dalam dirinya, semuanya terasa hancur.

​

Kemudian, dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga di sebuah bar dan kasino, kehidupan Gale berubah lagi. Di sinilah, ia bertemu dengan empat perempuan lain yang sama-sama terperangkap dalam kehidupan yang tampaknya sempurna, namun penuh dengan kekosongan dan masalah yang tak terlihat. Mereka berlima, yang memiliki latar belakang berbeda, masing-masing dengan perjuangan dan kebiasaan kelamnya sendiri, merencanakan sebuah cara untuk menyalurkan hasrat tergelap mereka tanpa mengorbankan nama baik mereka di dunia luar. Dari pertemuan yang tak terduga itulah lahir ide untuk membangun sebuah tempat yang akan menyembunyikan kehidupan ganda mereka, sebuah tempat di mana mereka bisa bebas dari penilaian dunia luar: House of Vervela.

 

Memilih untuk hiatus dalam kariernya sebagai artis, Gale memilih untuk menjadi cashier di Revelva Eatery. Gale memainkan peran yang terlihat tidak mencolok. Ia melayani pelanggan dengan senyum manis dan sikap ramah, sementara di balik layar, ia mengawasi jalannya bisnis yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ketika pelanggan datang dan pergi, Gale terus menjaga citranya sebagai seorang wanita anggun dan profesional, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa semuanya adalah kebohongan yang ia buat untuk menutupi rahasia besar itu.

 

Di House of Vervela, ia berperan sebagai Wager Clerk. Gale mengelola dunia perjudian yang tak terbatas, tempat di mana ketegangan dan adrenalin mengalir deras. Sebagai Wager Clerk, ia memiliki kendali penuh atas taruhan yang ada, memastikan permainan berjalan dengan lancar, dan mengatur agar para pemain merasa terus tertantang. Namun, di balik meja dan layar komputer yang mengatur aliran uang dan taruhan, Gale juga tahu betapa destruktif dunia ini bagi dirinya. Meskipun ia telah menemukan cara untuk menyalurkan kecanduannya tanpa membahayakan karier keartisan atau citranya di mata publik, ia juga merasakan betapa dunia perjudian ini semakin menguasainya. Sebagai Wager Clerk, ia adalah bagian dari permainan yang tak pernah berhenti.

BG_MENTAH_4.gif

CASSAIRA DIALA ANDAMADJI

as Dealer

CODE: THE COSMOPOLITAN

​

Casa, Asa, Cassie

(PDOB)

February 13, 199x

Revelva's Baker

Vervela's Dealer

​

TB

BB

Aquarius

IMG_6473.png
4-2.png

of C:
A TALE BEFOREVERVELA

Galestria Lysaine, atau lebih akrab dipanggil Gale, lahir di Jakarta pada 29 Januari 1994. Sejak kecil, Gale selalu dikelilingi oleh kemewahan dan perhatian, berkat kecantikan dan pesona alaminya. Sejak usia belasan tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikannya dalam dunia hiburan. Tak lama kemudian, dunia perfilman Indonesia menjadi saksi kelahiran bintang baru yang tak hanya cantik, tetapi juga berbakat luar biasa. Kariernya cepat meroket, dan dalam waktu singkat, Gale menjadi salah satu bintang film paling dicari di industri hiburan tanah air. Di layar kaca, ia memerankan karakter-karakter yang penuh emosi, dengan kemampuan akting yang memukau, membuat banyak orang terpesona dengan tiap adegan yang dibintanginya. Gaya hidupnya pun serba glamor—undangan ke acara-acara elit, penghargaan dari berbagai festival film, dan sorotan media yang tak pernah berhenti.

​

Namun, di balik kecemerlangan tersebut, Gale menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak diketahui publik. Dunia hiburan yang selama ini ia jalani ternyata menyisakan tekanan yang begitu besar, baik secara fisik maupun mental. Di luar jam syuting, ia merasa seperti hidup dalam sangkar emas, terperangkap dalam harapan dan ekspektasi yang semakin meningkat dari publik, media, dan juga dirinya sendiri. Rasa kesepian mulai menggerogoti dirinya. Ia tak lagi bisa merasakan kebahagiaan dari pekerjaan yang dulu selalu dinikmatinya. Dalam keheningan malam, setelah kamera dimatikan dan sorotan lampu panggung padam, Gale mulai mencari pelarian.

 

Pelarian itu datang dalam bentuk perjudian. Berawal dari satu atau dua taruhan kecil yang dianggapnya hanya sebagai hiburan, lama-kelamaan perjudian menjadi cara utama untuk melarikan diri dari segala tekanan yang ia hadapi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai menguasainya. Dunia perjudian  menawarkan  rasa  euforia  dan  sensasi yang membuatnya merasa hidup—sesuatu yang ia rasa hilang dalam dunia film yang tampaknya sempurna di luar, namun kosong di dalam.

​

Namun, semakin dalam ia terjerumus, semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya. Namun,  semakin  dalam ia terjerumus,semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya.

 

Di luar kariernya sebagai artis, Gale tampak seperti seorang wanita yang tidak punya beban—senyum manis selalu terpasang di wajahnya, dan ia selalu tampil anggun di hadapan kamera. Namun, di balik itu semua, ia merasa seperti orang yang terperangkap dalam perangkap yang ia buat sendiri. Setiap kali berjudi, ada perasaan meringis di dalam hati, menyadari bahwa ia telah mengorbankan segalanya untuk sebuah kebiasaan yang semakin menggerogoti dirinya. Tidak ada yang tahu betapa kesepian dan terisolasinya Gale di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Ia mulai merasa bahwa dunia nyata dan dunia yang ia jalani di layar kaca adalah dua hal yang sangat berbeda—sebuah ilusi yang harus dipertahankan untuk orang lain, meski di dalam dirinya, semuanya terasa hancur.

​

Kemudian, dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga di sebuah bar dan kasino, kehidupan Gale berubah lagi. Di sinilah, ia bertemu dengan empat perempuan lain yang sama-sama terperangkap dalam kehidupan yang tampaknya sempurna, namun penuh dengan kekosongan dan masalah yang tak terlihat. Mereka berlima, yang memiliki latar belakang berbeda, masing-masing dengan perjuangan dan kebiasaan kelamnya sendiri, merencanakan sebuah cara untuk menyalurkan hasrat tergelap mereka tanpa mengorbankan nama baik mereka di dunia luar. Dari pertemuan yang tak terduga itulah lahir ide untuk membangun sebuah tempat yang akan menyembunyikan kehidupan ganda mereka, sebuah tempat di mana mereka bisa bebas dari penilaian dunia luar: House of Vervela.

 

Memilih untuk hiatus dalam kariernya sebagai artis, Gale memilih untuk menjadi cashier di Revelva Eatery. Gale memainkan peran yang terlihat tidak mencolok. Ia melayani pelanggan dengan senyum manis dan sikap ramah, sementara di balik layar, ia mengawasi jalannya bisnis yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ketika pelanggan datang dan pergi, Gale terus menjaga citranya sebagai seorang wanita anggun dan profesional, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa semuanya adalah kebohongan yang ia buat untuk menutupi rahasia besar itu.

 

Di House of Vervela, ia berperan sebagai Wager Clerk. Gale mengelola dunia perjudian yang tak terbatas, tempat di mana ketegangan dan adrenalin mengalir deras. Sebagai Wager Clerk, ia memiliki kendali penuh atas taruhan yang ada, memastikan permainan berjalan dengan lancar, dan mengatur agar para pemain merasa terus tertantang. Namun, di balik meja dan layar komputer yang mengatur aliran uang dan taruhan, Gale juga tahu betapa destruktif dunia ini bagi dirinya. Meskipun ia telah menemukan cara untuk menyalurkan kecanduannya tanpa membahayakan karier keartisan atau citranya di mata publik, ia juga merasakan betapa dunia perjudian ini semakin menguasainya. Sebagai Wager Clerk, ia adalah bagian dari permainan yang tak pernah berhenti.

BG_MENTAH_4.gif

LOVELACE PERSEPHONE

as Showrunner

CODE: THE PLETOK

​

Love, Popon, Mphon

(PDOB)

xx xx, 199x

Revelva's Waitress

Vervela's Showrunner

​

TB

BB

x

IMG_6471.png
2-2.png

of P:
A TALE BEFOREVERVELA

Galestria Lysaine, atau lebih akrab dipanggil Gale, lahir di Jakarta pada 29 Januari 1994. Sejak kecil, Gale selalu dikelilingi oleh kemewahan dan perhatian, berkat kecantikan dan pesona alaminya. Sejak usia belasan tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikannya dalam dunia hiburan. Tak lama kemudian, dunia perfilman Indonesia menjadi saksi kelahiran bintang baru yang tak hanya cantik, tetapi juga berbakat luar biasa. Kariernya cepat meroket, dan dalam waktu singkat, Gale menjadi salah satu bintang film paling dicari di industri hiburan tanah air. Di layar kaca, ia memerankan karakter-karakter yang penuh emosi, dengan kemampuan akting yang memukau, membuat banyak orang terpesona dengan tiap adegan yang dibintanginya. Gaya hidupnya pun serba glamor—undangan ke acara-acara elit, penghargaan dari berbagai festival film, dan sorotan media yang tak pernah berhenti.

​

Namun, di balik kecemerlangan tersebut, Gale menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak diketahui publik. Dunia hiburan yang selama ini ia jalani ternyata menyisakan tekanan yang begitu besar, baik secara fisik maupun mental. Di luar jam syuting, ia merasa seperti hidup dalam sangkar emas, terperangkap dalam harapan dan ekspektasi yang semakin meningkat dari publik, media, dan juga dirinya sendiri. Rasa kesepian mulai menggerogoti dirinya. Ia tak lagi bisa merasakan kebahagiaan dari pekerjaan yang dulu selalu dinikmatinya. Dalam keheningan malam, setelah kamera dimatikan dan sorotan lampu panggung padam, Gale mulai mencari pelarian.

 

Pelarian itu datang dalam bentuk perjudian. Berawal dari satu atau dua taruhan kecil yang dianggapnya hanya sebagai hiburan, lama-kelamaan perjudian menjadi cara utama untuk melarikan diri dari segala tekanan yang ia hadapi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai menguasainya. Dunia perjudian  menawarkan  rasa  euforia  dan  sensasi yang membuatnya merasa hidup—sesuatu yang ia rasa hilang dalam dunia film yang tampaknya sempurna di luar, namun kosong di dalam.

​

Namun, semakin dalam ia terjerumus, semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya. Namun,  semakin  dalam ia terjerumus,semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya.

 

Di luar kariernya sebagai artis, Gale tampak seperti seorang wanita yang tidak punya beban—senyum manis selalu terpasang di wajahnya, dan ia selalu tampil anggun di hadapan kamera. Namun, di balik itu semua, ia merasa seperti orang yang terperangkap dalam perangkap yang ia buat sendiri. Setiap kali berjudi, ada perasaan meringis di dalam hati, menyadari bahwa ia telah mengorbankan segalanya untuk sebuah kebiasaan yang semakin menggerogoti dirinya. Tidak ada yang tahu betapa kesepian dan terisolasinya Gale di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Ia mulai merasa bahwa dunia nyata dan dunia yang ia jalani di layar kaca adalah dua hal yang sangat berbeda—sebuah ilusi yang harus dipertahankan untuk orang lain, meski di dalam dirinya, semuanya terasa hancur.

​

Kemudian, dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga di sebuah bar dan kasino, kehidupan Gale berubah lagi. Di sinilah, ia bertemu dengan empat perempuan lain yang sama-sama terperangkap dalam kehidupan yang tampaknya sempurna, namun penuh dengan kekosongan dan masalah yang tak terlihat. Mereka berlima, yang memiliki latar belakang berbeda, masing-masing dengan perjuangan dan kebiasaan kelamnya sendiri, merencanakan sebuah cara untuk menyalurkan hasrat tergelap mereka tanpa mengorbankan nama baik mereka di dunia luar. Dari pertemuan yang tak terduga itulah lahir ide untuk membangun sebuah tempat yang akan menyembunyikan kehidupan ganda mereka, sebuah tempat di mana mereka bisa bebas dari penilaian dunia luar: House of Vervela.

 

Memilih untuk hiatus dalam kariernya sebagai artis, Gale memilih untuk menjadi cashier di Revelva Eatery. Gale memainkan peran yang terlihat tidak mencolok. Ia melayani pelanggan dengan senyum manis dan sikap ramah, sementara di balik layar, ia mengawasi jalannya bisnis yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ketika pelanggan datang dan pergi, Gale terus menjaga citranya sebagai seorang wanita anggun dan profesional, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa semuanya adalah kebohongan yang ia buat untuk menutupi rahasia besar itu.

 

Di House of Vervela, ia berperan sebagai Wager Clerk. Gale mengelola dunia perjudian yang tak terbatas, tempat di mana ketegangan dan adrenalin mengalir deras. Sebagai Wager Clerk, ia memiliki kendali penuh atas taruhan yang ada, memastikan permainan berjalan dengan lancar, dan mengatur agar para pemain merasa terus tertantang. Namun, di balik meja dan layar komputer yang mengatur aliran uang dan taruhan, Gale juga tahu betapa destruktif dunia ini bagi dirinya. Meskipun ia telah menemukan cara untuk menyalurkan kecanduannya tanpa membahayakan karier keartisan atau citranya di mata publik, ia juga merasakan betapa dunia perjudian ini semakin menguasainya. Sebagai Wager Clerk, ia adalah bagian dari permainan yang tak pernah berhenti.

BG_MENTAH_4.gif
MENU 2.png

NAREENDHYA ARUM

as Bartender

CODE: THE AMER

​

Arum, Nareen

(PDOB)

September 27, 1999

Revelva's Barista

Vervela's Bartender

​

TB

BB

Libra

IMG_6477.png
5-2.png

of A:
A TALE BEFOREVERVELA

Galestria Lysaine, atau lebih akrab dipanggil Gale, lahir di Jakarta pada 29 Januari 1994. Sejak kecil, Gale selalu dikelilingi oleh kemewahan dan perhatian, berkat kecantikan dan pesona alaminya. Sejak usia belasan tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikannya dalam dunia hiburan. Tak lama kemudian, dunia perfilman Indonesia menjadi saksi kelahiran bintang baru yang tak hanya cantik, tetapi juga berbakat luar biasa. Kariernya cepat meroket, dan dalam waktu singkat, Gale menjadi salah satu bintang film paling dicari di industri hiburan tanah air. Di layar kaca, ia memerankan karakter-karakter yang penuh emosi, dengan kemampuan akting yang memukau, membuat banyak orang terpesona dengan tiap adegan yang dibintanginya. Gaya hidupnya pun serba glamor—undangan ke acara-acara elit, penghargaan dari berbagai festival film, dan sorotan media yang tak pernah berhenti.

​

Namun, di balik kecemerlangan tersebut, Gale menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak diketahui publik. Dunia hiburan yang selama ini ia jalani ternyata menyisakan tekanan yang begitu besar, baik secara fisik maupun mental. Di luar jam syuting, ia merasa seperti hidup dalam sangkar emas, terperangkap dalam harapan dan ekspektasi yang semakin meningkat dari publik, media, dan juga dirinya sendiri. Rasa kesepian mulai menggerogoti dirinya. Ia tak lagi bisa merasakan kebahagiaan dari pekerjaan yang dulu selalu dinikmatinya. Dalam keheningan malam, setelah kamera dimatikan dan sorotan lampu panggung padam, Gale mulai mencari pelarian.

 

Pelarian itu datang dalam bentuk perjudian. Berawal dari satu atau dua taruhan kecil yang dianggapnya hanya sebagai hiburan, lama-kelamaan perjudian menjadi cara utama untuk melarikan diri dari segala tekanan yang ia hadapi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai menguasainya. Dunia perjudian  menawarkan  rasa  euforia  dan  sensasi yang membuatnya merasa hidup—sesuatu yang ia rasa hilang dalam dunia film yang tampaknya sempurna di luar, namun kosong di dalam.

​

Namun, semakin dalam ia terjerumus, semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya. Namun,  semakin  dalam ia terjerumus,semakin besar pula kerugian yang harus ia tanggung. Uang yang diperoleh dari ketenaran dan popularitasnya di industri hiburan mulai terkuras habis. Hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sama, Gale terus terjebak dalam lingkaran setan, dengan utang-utang yang menumpuk dan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya.

 

Di luar kariernya sebagai artis, Gale tampak seperti seorang wanita yang tidak punya beban—senyum manis selalu terpasang di wajahnya, dan ia selalu tampil anggun di hadapan kamera. Namun, di balik itu semua, ia merasa seperti orang yang terperangkap dalam perangkap yang ia buat sendiri. Setiap kali berjudi, ada perasaan meringis di dalam hati, menyadari bahwa ia telah mengorbankan segalanya untuk sebuah kebiasaan yang semakin menggerogoti dirinya. Tidak ada yang tahu betapa kesepian dan terisolasinya Gale di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Ia mulai merasa bahwa dunia nyata dan dunia yang ia jalani di layar kaca adalah dua hal yang sangat berbeda—sebuah ilusi yang harus dipertahankan untuk orang lain, meski di dalam dirinya, semuanya terasa hancur.

​

Kemudian, dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga di sebuah bar dan kasino, kehidupan Gale berubah lagi. Di sinilah, ia bertemu dengan empat perempuan lain yang sama-sama terperangkap dalam kehidupan yang tampaknya sempurna, namun penuh dengan kekosongan dan masalah yang tak terlihat. Mereka berlima, yang memiliki latar belakang berbeda, masing-masing dengan perjuangan dan kebiasaan kelamnya sendiri, merencanakan sebuah cara untuk menyalurkan hasrat tergelap mereka tanpa mengorbankan nama baik mereka di dunia luar. Dari pertemuan yang tak terduga itulah lahir ide untuk membangun sebuah tempat yang akan menyembunyikan kehidupan ganda mereka, sebuah tempat di mana mereka bisa bebas dari penilaian dunia luar: House of Vervela.

 

Memilih untuk hiatus dalam kariernya sebagai artis, Gale memilih untuk menjadi cashier di Revelva Eatery. Gale memainkan peran yang terlihat tidak mencolok. Ia melayani pelanggan dengan senyum manis dan sikap ramah, sementara di balik layar, ia mengawasi jalannya bisnis yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ketika pelanggan datang dan pergi, Gale terus menjaga citranya sebagai seorang wanita anggun dan profesional, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa semuanya adalah kebohongan yang ia buat untuk menutupi rahasia besar itu.

 

Di House of Vervela, ia berperan sebagai Wager Clerk. Gale mengelola dunia perjudian yang tak terbatas, tempat di mana ketegangan dan adrenalin mengalir deras. Sebagai Wager Clerk, ia memiliki kendali penuh atas taruhan yang ada, memastikan permainan berjalan dengan lancar, dan mengatur agar para pemain merasa terus tertantang. Namun, di balik meja dan layar komputer yang mengatur aliran uang dan taruhan, Gale juga tahu betapa destruktif dunia ini bagi dirinya. Meskipun ia telah menemukan cara untuk menyalurkan kecanduannya tanpa membahayakan karier keartisan atau citranya di mata publik, ia juga merasakan betapa dunia perjudian ini semakin menguasainya. Sebagai Wager Clerk, ia adalah bagian dari permainan yang tak pernah berhenti.

bottom of page