top of page
BG_MENTAH_4.gif

CASSAIRA DIALA ANDAMADJI

as Editor and Event Planner

CODE: THE CAPCIN &

               THE COSMOPOLITAN

​

Casa, Asa, Cassie

Jakarta, Indonesia

January 31, 1997

Revelva's Baker

Vervela's Dealer

​

161 cm

45 kg

Aquarius

IMG_6473.png
4-2.png

of C:
A TALE BEFOREVERVELA

Hidupnya begitu sempurna, pikirnya.

​

Memiliki kemampuan yang dikagumi oleh banyak orang, karir yang bagus, hidup berkecukupan, juga keluarga yang diisi oleh orang-orang berpendidikan tinggi dan berkarir bagus.

​

Hidupnya hampir sempurna, pikirnya.

​

Di kala setiap mata memuja dirinya dan juga garis hidupnya yang lebih dekat dengan kata beruntung, di situ pula sepasang mata yang terlihat sayu dengan raut wajah kusut menatap dirinya sendiri di depan cermin. Maniknya sibuk mencari kesempurnaan yang banyak orang idamkan saat memandang paras dan hasil karyanya sebagai Fashion Designer.

​

Nyatanya, Cassaira Diala Andamadji, tidak lebih dari seorang pengecut yang takut untuk menghadapi hidupnya sendiri. Bak sebuah robot, kesempurnaan yang selama ini mengukung tubuh kurusnya, membuat Cassaira harus hidup di bawah bayang keluarga besarnya. Hidup dan kesempurnaannya berjalan beriringan, namun bukan lagi menjadi miliknya. Satu-satunya hal yang membuat Cassaira hidup hanyalah pekerjaan yang memberikan kebebasan untuk mengungkapkan isi pikirannya. Sampai kedua orang tuanya meminta Cassaira untuk memperluas bisnisnya dan memperkuat relasi dari kolega keluarganya yang membuat dirinya dituntut untuk lebih sempurna. Satu-satunya hal yang menjadi hidupnya kembali direnggut, ia kembali kehilangan dirinya.

​

Cassaira mengalami kemunduran dalam karirnya dan mendapatkan begitu banyak tekanan dari pihak keluarga, publik, client, bahkan dirinya sendiri. Entah sudah beraoa lama ia mengkonsumsi pil-pil yang kini berada di tangannya. Pikiran dan perasaannya kacau, kusut, tidak dapat didefinisikan betapa berantakan bagian dalam dari dirinya itu. Tak jarang Cassaira berteriak saat mencoba untuk berhenti bergantung pada obat penenangnya, kepalanya berisik membuat Cassaira terus berteriak berharap pikiran itu pergi bersama rasa sakit di dadanya.

​

Sehingga malam itu, demi kembali melepas obat penenang yang ia konsumsi rutin, kedua tungkai lemahnya membawa dirinya berjalan entah kemana membelah jalanan Ibukota yang masih saja ramai. Netranya buram menahan tangisnya, sehingga dalam kesadaran yang hilang sebagian, kakinya berpijak di sebuah tempat yang minim pencahayaan, sejelasnya, ia tertegun saat telinganya dipenuhi dengan suara musik yang berdentum begitu keras.

​

Bar—matanya menangkap sebuah bar berisikan beragam bentuk gelas dan botol-botol minuman mengelilinginya. Ini bukan pertama kalinya Cassaira melakukan hal serupa, namun kali ini rasanya berbeda karena pelarian jelas menjadi tujuannya saat ini. Diteguknya segelas Cosmopolitan yang ia pesan dengan cepat, membawa cairan itu bersama beban yang ia emban kemanapun kakinya melangkah, berharap itu bisa hilang setiap mililiter cairan dengan beragam rasa itu masuk ke kerongkongannya.

​

Beberapa kali dirinya kembali ke tempat tersebut dan selalu menemukan empat orang wanita yang selalu berada di tempat yang sama sedang menikmati minuman mereka—atau mungkin bising tempat itu yang mereka nikmati. Entah sadar atau tidak, sejelasnya ia merasa baru menemukan kembali hidupnya saat bertemu dengan empat orang yang asing baginya, namun begitu dekat dengan masalah yang hidup dalam diri masing-masing. Bagai lembaran baru yang siap untuk dihujani tinta, Cassaira bersama empat orang itu menemukan salah satu cara untuk melepaskan sakitnya.

​

Saat itu, dirinya mengerti jika pelariannya mungkin berada di sini, mungkin empat orang ini adalah solusi dari masalahnya, dan tempat yang kini sudah mereka bangun dinamakan ‘House’ bukan tanpa tujuan. Tempat ini adalah wadah untuk mereka pulang dari hiruk-pikuk berisiknya isi kepala mereka.

​

Hingga saat ini, Cassaira memilih untuk melanjutkan karirnya sebagai Fashion Designer dan perlahan kembali memulai apa yang sempat berantakan, namun, ia juga mengemban tugasnya menjadi seorang Dealer di House of Vervela, bersenang-senang menikmati bising dan menatap lekat raut wajah putus asa dari orang yang mempertaruhkan hidup mereka di dalamnya.

FC INFO.png
bottom of page