top of page
BG_MENTAH_4.gif

NAREENDHYA ARUM

as Editor

CODE: THE AMERICANO &

               THE AMER

​

Arum

Banda Aceh, Indonesia

September 27, 1999

Revelva's Barista

Vervela's Bartender

​

163 cm

46 kg

Libra

IMG_6477.png
5-2.png

of A:
A TALE BEFOREVERVELA

Lahir di tengah keluarga yang kaku dan penuh aturan membuat jiwa bebas Nareendhya Arum memberontak di usia 16 tahun. Layaknya paus orca yang terperangkap di kolam sempit, ia merasa sesak oleh larangan-larangan yang terus mengungkungnya. Mungkin benar kata pepatah: "Anak dari keluarga strict akan tumbuh menjadi ahli strategi pelarian." Dalam diam, Arum mulai menyusun rencana. Targetnya jelas—ia harus bisa kuliah di Jakarta, jauh dari pengawasan keluarganya, mencari kebebasan yang selama ini hanya menjadi mimpi.

​

Rencana itu membuahkan hasil. Meskipun harus melalui beberapa pertengkaran kecil sebelum keberangkatannya, ia akhirnya menginjakkan kaki di Jakarta. Di kota itu, ia memulai segalanya dari nol, membiarkan dirinya menjalani hidup sesuai kehendaknya. Tak butuh waktu lama baginya untuk mencapai prestasi—baru saja menyelesaikan studinya, Arum telah menjadi seorang ahli kecantikan. Lebih dari itu, ia aktif di media sosial, berbagi tips kecantikan yang disambut hangat oleh para pengikutnya. Namun, kesuksesannya tidak cukup untuk membuat orang tuanya bangga.

​

Bagi mereka, Arum telah berubah. Aktivitasnya di media sosial dianggap tak ubahnya seperti "menjual diri" di muka umum. Kalimat-kalimat tajam dari keluarganya sendiri menghujam hatinya, menciptakan luka yang ia tutupi dengan mendalami dunia kecantikan lebih dalam. Ia bertekad untuk membuktikan bahwa apa yang ia lakukan adalah membantu orang lain menemukan keindahan diri mereka.

​

Namun, tekad itu berubah menjadi obsesi. Kecantikan menjadi candu baginya—dari riasan hingga barang-barang mewah yang menunjang penampilannya. Ia tak ragu merogoh kocek untuk membeli pakaian atau tas mahal, meski kadang harus kehilangan uang akibat penipuan. Perlahan tapi pasti, gaya hidup hedonisnya mulai mengambil alih, mengacaukan segalanya. Pendapatannya sebagai ahli kecantikan tidak cukup untuk menutupi pengeluarannya yang semakin besar.

​

Terdesak oleh kebutuhan, Arum mencari jalan pintas. Apa yang ia lakukan bahkan lebih buruk dari tuduhan orang tuanya sebelumnya. Tanpa diketahui siapa pun, saat malam tiba, ia menjalani kehidupan ganda. Arum menjadi "teman malam" yang menemani kliennya berbincang dan minum di karaoke atau bar. Dengan parasnya yang memikat, ia menjadi favorit banyak klien. Baginya, selama ia hanya menemani di ruang terbuka, semua masih terasa aman.

​

Suatu malam, di salah satu bar langganannya, ia bertemu empat perempuan dengan sisi yang sama gelapnya dengannya. Pertemuan itu melahirkan sebuah gagasan—cara untuk menyalurkan hasrat gelap mereka tanpa merusak citra di dunia luar. Dari sinilah tercipta House of Vervela, sebuah tempat yang menyembunyikan kehidupan ganda mereka.

​

Arum memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai "teman malam" dan berhenti mendalami dunia kecantikan secara profesional. Meskipun begitu, aktivitasnya di media sosial tetap berjalan, meski tidak seintens dahulu. Sesekali, ia mempromosikan Revelva Eatery kepada para pengikutnya—tempat yang kini menjadi bagian dari kesehariannya. Di sana, ia tampil sebagai seorang barista, menjalankan peran baru yang tampak sederhana namun penuh makna. Dengan tangan terampil, ia meracik minuman yang memukau, memadukan rasa dan estetika dalam setiap sajian. Perannya sebagai barista tampak begitu alami, seolah-olah itulah dunianya yang sebenarnya.

​

Namun, di balik layar, Arum menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda. Ia adalah seorang bartender di House of Vervela, tempat di mana ia benar-benar menguasai seni meracik alkohol. Setiap minuman yang ia ciptakan menjadi karya seni yang menggoda siapa pun yang mencicipinya. Tanpa ia sadari, minuman-minuman itu tidak hanya menjadi simbol keterampilannya, tetapi juga refleksi dari jati dirinya yang baru—sisi gelap yang ia pelihara dengan cermat. Kehidupan ganda ini telah tertanam begitu dalam dalam dirinya. Kadang, ia bertanya-tanya, apakah suatu hari ia masih memiliki kesempatan untuk kembali menjadi seseorang yang ia inginkan dahulu, ataukah ia akan selamanya terperangkap dalam dunia yang ia bangun sendiri.

FC INFO.png
bottom of page